Tradisi omed - omedan

Tradisi omed omedan
tradisi omed omedan


Tradisi omed - omedan atau juga disebut med - med - an diadakan setiap tahun, omed omedan digelar sehari setelah hari raya Nyepi atau yang disebut sebagai hari Ngembak Geni. Kegiatan atau tradisi ini merupakan warisan turun temurun. Tradisi omed omedan adalah “berciuman” antara dua orang di tengah ribuan orang. Untuk memisahkan biasanya dengan cara diguyur air. Mari kita bahas tentang tradisi omed omedan ini, lokasinya dimana, bagaimana sejarahnya sampai ada tradisi ini, dan bagaimana pelaksanaannya.

LOKASI
Tradisi omed omedan hanya bisa dijumpai di Banjar Kaja kelurahan Sesetan, kotamadya Denpasar, propinsi Bali.

Menurut keyakinan dan kepercayaan warga setempat, bila acara ini tidak di selenggarakan, di dalam satu tahun mendatang berbagai peristiwa buruk akan datang menimpa. Pernah pada 1970 - an ditiadakan, tiba-tiba di pelataran Pura terjadi perkelahian dua ekor babi. Mereka terluka dan berdarah-darah, lalu menghilang begitu saja. Peristiwa itu dianggap sebagai pertanda, bahwa kejadian buruk akan menimpa warga banjar.

SEKILAS SEJARAH OMED OMEDAN
Menurut cerita tradisi omed-omedan itu merupakan tradisi leluhur yang sudah dilakukan sejak zaman penjajahan dulu. Awalnya ritual omed omedan atau ciuman massal itu dilakukan di Puri Oka. Puri Oka merupakan sebuah kerajaan kecil pada zaman penjajahan Belanda.

Ceritanya, pada suatu saat konon raja Puri Oka mengalami sakit keras. Sang raja sudah mencoba berobat ke berbagai tabib tapi tak kunjung sembuh. Sehari setelah hari raya Nyepi (saat Ngembak Geni), masyarakat Puri Oka menggelar permainan omed - omedan. Saking semangatnya, suasana jadi gaduh akibat acara saling rangkul para muda-mudi. Raja Puri Oka yang saat itu sedang sakit pun marah besar karena kebisingan dan keributan yang diakibatkan oleh suara muda - mudi yang mengikuti acara omed - omedan tersebut. Dengan berjalan terhuyung - huyung raja keluar dan melihat warganya yang sedang rangkul-rangkulan. Anehnya, ketika  melihat adegan yang panas itu, tiba-tiba raja tak lagi merasakan sakitnya. Ajaibnya lagi raja kembali sehat seperti sediakala.

Raja lalu mengeluarkan titah agar omed-omedan harus dilaksanakan tiap tahun sekali, yaitu sehari setelah hari raya Nyepi (pada saat Ngembak Geni). Namun pemerintah Belanda waktu itu merasa tidak senang dengan upacara itu. Belanda pun melarang ritual permainan muda-mudi tersebut. Warga akhirnya tidak menggelar omed-omedan. Namun, setelah omed-omedan tidak dilaksanakan lagi, tiba-tiba ada 2 ekor babi besar berkelahi di tempat omed - omedan biasa digelar. “Akhirnya raja dan rakyat meminta petunjuk kepada leluhur. Setelah itu omed - omedan dilaksanakan kembali sehari setelah hari raya Nyepi”.

KEGIATAN OMED - OMEDAN
Sebelum memulai tradisi unik ini para peserta omed - omedan yang seluruhnya adalah pemuda dan pemudi melakukan per sembahyangan dan doa bersama di pura banjar yang dipimpin oleh pemangku atau pemimpin agama setempat. Usai berdoa, barulah para peserta membaur ke tengah arena disaksikan ribuan warga yang hadir dalam tradisi setahun sekali ini. Sebelum dimulai, peserta dibagi dua kelompok sesuai dengan jenis kelamin dan posisi berlawanan.

Selanjutnya, salah satu dari kedua kelompok pemuda dan pemudi kemudian diarak bergiliran untuk saling ber pelukan dan berciuman. Dalam tradisi ini kedua peserta yang diarak ini tidak boleh memilih pasangan yang diciumnya. Aksi berpelukan dan berciuman ini akan dipisahkan setelah para peserta mendapat guyuran air dari panitia.

Bagi para peserta, meski mengaku risih karena berciuman ditempat ramai, namun hal ini dilakukan karena merupakan salah satu tradisi leluhur, sekaligus sebagai hiburan setelah melaksanakan tapa brata penyepian.

Sementara bagi sesepuh desa sendiri selain sebagia salah satu penghormatan terhadap leluhur, tradisi omed - omedan juga sebagai ajang membina hubungan antar sesama warga banjar tersebut.

Omed - omedan niscaya bukan tradisi baru usai perayaan hari raya Nyepi Tradisi yang sudah dilakukan turun temurun dalam kehidupan warga banjar Kaja, Sesetan, Denpasar, itu tampil dengan wajah baru. Tradisi omed-omedan tidak lagi diperagakan melalui adegan komunitas anak muda berlainan jenis yang saling berciuman semata. Tradisi ini ditingkatkan menjadi sebuah festival.

Komunitas teruna - teruni banjarnya menjadi tulang punggung kegiatan adat ini. Kegiatan tradisi omed-omedan ini memang dipercayakan manajemen pelaksanaannya kepada kalangan teruna - teruni. Kalangan anak muda banjar ini diberikan tanggung jawab untuk mengemasnya menjadi sebuah perhelatan yang makin menarik, tetapi tidak menghilangkan kekhasan dan spiritnya. Kemasan festival dalam menggelar tradisi omed-omedan tahun ini pun diupayakan agar tetap berada dalam ciri khasnya itu. Sebagai sebuah festival, tradisi itu dilengkapi pelaksanaannya dengan pembukaan pasar rakyat. Pasar rakyat ini memamerkan karya home industri warga banjar Kaja, makanan khas tradisional Bali, termasuk beragam produk lainnya. Upaya pemerintah kota Denpasar untuk menjadikan tradisi ini sebagai salah satu ikon kota Denpasar direspons positif. Namun, manajemen tradisi omed - omedan ini akan terus dibenahi.

Anda tertarik ingin menyaksikan acara ini? Anda bisa datang ke daerah sesetan pada saat sehari setelah nyepi atau di bali disebut ngembak geni.

Mungkin anda juga tertarik dengan sewa motor murah atau sewa mobil dengan driver.

Artikel Terkait

Tradisi omed - omedan
4/ 5
Oleh

Berlangganan

Suka dengan artikel di atas? Silakan berlangganan gratis via email